Home | About Us

Sejarah PGPI

1976 - 1984

Kegiatan Awal Professional Golfers Indonesia

Diawali dari empat pendekar golfer professional, yaitu Mat Kajal, John Lantang, Ali Mursan dan Aguz Mazeni, masing-masing mewakili Ancol, Senayan, Rawamangun (Jakarta Golf Club) dan Halim, yang membuat akte pendirian melalui notaris yang juga pegolf, Fritz Mawati, Persatuan Golf Profesional muncul di permukaan.

Kecuali tiga pendiri diatas, hanya Agus Mazeni yang masih hidup. Bahkan saat artikel ini ditulis (Januari 2012), beliau sudah tidak lagi berkiprah sebagai profesional aktif dan bekerja di Permata Sentul Golf Club.

Selama delapan tahun sejak berdirinya PGPI, tak banyak catatan yang didapat, kecuali sejumlah rekaman yang diperoleh dalam sejumlah kegiatan turnamen, termasuk Indonesia Open yang telah digelar sejak tahun 1974.

Dan jumlah anggota pun belum terlalu banyak. Di mana jumlah padang golf di Indonesia, yang kebanyakan adalah warisan dari jaman Belanda, yaitu Jakarta Golf Club (Rawamangun - Jakarta), Perkumpulan Golf Bandung (Dago - Bandung), Perkumpulan Golf Surabaya (A. Yani - Surabaya), Deli Golf Club (Tuntungan-Sumut), Bogor Golf Club (Cilendek - Bogor), dan Palembang Golf Club (Kenten - Palembang).

Sementara itu, sejumlah lapangan baru dibangun setelah masa orde baru - atas inisiatif Dr. Ibnu Sutowo (Alm) yang membangun sejumlah padang golf di beberapa fasilitas Pertamina, seperti di Cirebon (Ciperna) atau Cilacap (Tritih) dan Pondok Cabe. Demikian pula, Ancol didirikan atas inisiatif Ir. Ciputra serta sebelumnya, Senayan Golf Club dibangun oleh D. Suprayogi (Alm) mulai mewarnai hiruk pikuk bangunan golf di Indonesia. Sementara Sawangan Golf Club didirikan oleh para petinggi Bea Cukai serta DKI.

Berkelanjutan dengan dimanfaatkannya lahan sejumlah lapangan dibawah kendali Pangkalan TNI-AU, seperti Polonia (Medan), Halim (Jakarta), Husein (Bandung), Meguwo (Yogya), Maospati (Madiun), dan Abdurahman Saleh (Malang).

Dalam pada itu, sejumlah Driving Range independent pun mulai bermunculan, khususnya Senayan Driving Range. Dikatakan independent karena tidak lagi bergantung kepada padang golf tertentu.

Keberadaan para pegolf profesionals tidak terlepas dari perubahan status dari caddie. Walau pun demikian, populasi para Pro pun tidak bertambah seiring dengan berkembangnya fasilitas golf. Hal ini disebabkan ketiadaan organisasi yang dapat menampung para calon golfer profesional.

Itulah kondisi awal berdirinya PGPI, sebagaimana dicetuskan oleh keempat pendirinya. Dan sebagai konsekuensi logis; awal dekade delapan-puluhan, pendekatan mulai dilakukan kepada para petinggi negara - perbankan dan dunia usaha mulai dilirik agar dapat mengembangkan organisasi.  

1984 - 2001

Geliat Pegolf Profesional

Menyadari bahwa kegiatan para anggota PGPI lebih banyak tersita dalam memenuhi kebutuhan asap dapur, ditambah ketiadaan kemampuan dalam hal manajemen serta jejaring sponsor, maka para pendiri PGPI menyadari perlunya kehadiran pendukung yang memiliki potensi dalam hal-hal krusial yang diperlukan untuk pengembangan organisasi serta penyediaan dana untuk turnamen khusus bagi para pegolf profesional.

Setelah melalui pendekatan yang cukup intensif, Widarsadipradja (Alm) yang juga menjabat sebagai Dirut Bank Dagang Negara saat itu, berkenan untuk mengambil alih tampuk pimpinan PGPI. Diikuti dengan masuknya Taufik Aziz (Alm) yang bertindak sebagai Sekretaris Jendral - yang juga adalah Sekjen dari Persatuan Golf Indonesia (PGI).

Dengan berkiprahnya Ketua dan Sekjen baru, kegiatan organisasi mulai menampakkan gregetnya, setelah digelarnya sejumlah kegiatan turnamen Pro, seperti "Jakarta Circuit" yang juga sepenuhnya didukung oleh jajaran penyelenggara dan dukungan dari anggota PGI (padang golf). Dan hadiah uang yang berkisar antara Rp20-jutaan untuk setiap turnamen, mulai menumbuhkan gairah baru bagi para pegolf profesional kita.

Walau terkesan belum mencuatkan nama-nama bintang, namun setelah Kasiadi memenangi Indonesia Open '89 sebagai Pro Indonesia yang pertama dan satu-satunya juara turnamen akbar di Indonesia. Dalam kejuaraan yang digelar di Rawamangun tersebut, Kasiadi mampu mematahkan perlawanan pegolf profesional mancanegara yang tergabung dalam seri Asian Tour (lama), yaitu yang masih bernaung di bawah APGC (Asia-Pacific Golf Confederation).

Terlebih lagi dengan pundi-pundi uang yang disediakan sebesar antara US$150,000 sampai US$ 200,000 yang disediakan Asian Tour tersebut, mencercahkan harapan masa depan. Namun sayangnya, kebanyakan anggota PGPI tidak dapat berkiprah untuk mengikuti pertandingan di luar negeri. Kebanyakan disebabkan oleh kurangnya kemampuan beradaptasi dengan kondisi setempat. Terlebih dengan jenis makanan yang berbeda.

Setelah akhir 90-an, Asian Tour kemudian berkembang menjadi independent setelah Dato Ramlan Haron mengambil alih kendali dan membangun dasar-dasar bagi Asian Tour dibawah Chy La Han.

Dalam periode ini, tercatat pula perkembangan yang menggembirakan. Sejumlah pemain amatir yang ditempa melalui program pembinaan PGI mulai terlihat hasilnya. Mereka adalah pemain amatir yang dipersiapkan mengikuti kejuaraan beregu antar negara Asia atau Asean, seperti Putra Cup dan Sea Games. Tercatat pula Program Nusamba yang menghasilkan sejumlah pemain yang mengemuka.

Salah satu hal yang mendukung terciptanya pegolf profesional generasi baru, adalah pergeseran dari para mantan caddie tanpa program khusus, menjadi para pegolf binaan yang menguasai ketrampilan yang dibutuhkan untuk menjadi pegolf profesional.

Dalam periode ini, menghasilkan sejumlah nama yang tak hanya berbakat, namun keberadaannya masih terus diperhitungkan. Maan Nasim sempat mengukir namanya sebagai pegolf Pro yang mewakili Indonesia dalam berbagai kejuaraan khusus, seperti "Volvo Super Tour" yang dimainkan di sejumlah negara Asia dan hanya diikuti oleh 8 pemain, seperti Ernie Els dan Jesper Pernevik. Juga di pertengahan 90-an itu, Maan berlaga di Bali Golf, Nusa Dua dalam turnamen Johnnie Walker Skins melawan Vijay Singh, Ian Woosnam & Boonchu Ruangkit.

Tercatat sejumlah pemain jebolan amatir yang kemudian berkibar, seperti Sanusi, Ilyasyak, Bachtiar Sanja, serta Burhan Bora. Sayangnya, Sukamdi yang sempat menguasai panggung Putra Cup dan Sea Games tidak mampu meneruskan dominasinya setelah menjadi pegolf Pro.

Tercatat sejumlah pertandingan internasional, seperti Alfred Dunhill Masters yang digelar di Bali dan Emeralda pada tahun 1994 & 1995, dimana PGPI terwakili.

Setelah krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997, mengakibatkan agak tersendatnya banyak kegiatan akibat berhentinya sponsorship yang menjadi sumber dana. Indonesia Open, bahkan tidak digelar lagi antara tahun 1998 - 2004.

Kendati demikian, masih ada beberapa kegiatan turnamen yang digelar, antara lain Japan Jagorawi Golf Championship sebanyak 4 seri hingga tahun 2000. Disamping itu, Olympic Open yang disponsori Olympic Golf Golf Club sempat digelar di Gunung Geulis, Rancamaya, Taman Dayu dan Jababeka Golf.

2001 - 2012

Memasuki Milenium Baru

Sesuai perkembangan zaman dan dinamisme yang mengikutinya, akhirnya digelar untuk pertama kalinya, Rapat Umum Anggota pada tanggal 25 September 2001 untuk mengesahkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PGPI serta memilih Ketua Umum.

Dalam RUA pertama tersebut terpilih Japto Soerjosoemarno menjadi Ketua Umum pertama sekaligus mengesahkan AD/ART. Dalam kegiatan organisasi, mulailah terbentuk beberapa peraturan yang mengatur tentang persyaratan untuk menjadi anggota.

Dari data yang ada, anggota PGPI pada saat itu tercatat hanya sejumlah 320, dengan catatan bahwa keanggotaan sebelum pembaharuan masih didasari oleh ketentuan pengurus. Sejak 2001, ditentukan syarat harus mengikuti Test Kemampuan Bermain (Playing Ability Test) terlebih dahulu dan sekurangnya memiliki ijazah setara Sekolah Menengah Atas dan berusia lebih dari 18 tahun.

Kondisi ini dibuat mengingat tantangan ke depan kian besar bagi para profesional. Dan Klasifikasi mulai dibuat, untuk membedakan antara Pengajar (Teacher), Pemain (Tour Player) dan Pengelola (Managing); mengingat bahwa masing-masing klasifikasi mempunyai karakteristik yang spesifik.

Juga disempurnakan tentang jenis keanggotaan berdasarkan kewarga-negaraan, mengingat terdapat banyak pegolf pro asing yang bekerja di Indonesia, yang memerlukan penanganan secara khusus. Disamping melindungi Pro lokal dari dominasi Pro asing, hal ini dimaksudkan sebagai upaya agar tidak terjadi kesimpang-siuran tata-laksana kerja.

Dalam melaksanakan roda organisasi, Ketum menunjuk seorang Ketua Harian yang dijabat oleh Avie K. Utomo dan Sekjen dijabat oleh Agus Triyono.

PGPI Tour dibentuk sebagai bagian dari pengelolaan bagian utama dari kegiatan organisasi, agar PGPI dapat mensejajarkan dirinya dengan Tour lain dengan menerapkan standar internasional.

Pada masa bakti pertama antara 2001 - 2005, kegiatan lebih banyak terkonsentrasi dalam penguatan organisasi dengan pengembangan Koordinator Cabang dan Ranting, sebagai bagian dari pelayanan kepada anggota.

Sementara kegiatan turnamen tetap berjalan, diawali dengan Indonesia Masters di Riverside, Diikuti dengan Quarta-Sonni Puteri Open di Bukit Darmo dan Taman Dayu, berkat dukungan dari Sonni Dwi Harsono, yang diketahui sangat peduli bagi perkembangan pegolf professional di Indonesia.

Setelah Rapat Umum Anggota kedua, Japto Soerjosoemarno kembali terpilih sebagai Ketua Umum dan langsung menunjuk Nursalam Tabusalla sebagai Ketua Harian dalam menjalankan kegiatan eksekutif. Sementara Sekjen tetap dijabat oleh Agus Triyono.

Dalam kegiatan masa bakti kedua ini, perhelatan turnamen kian menggeliat. Dalam rekaman kegiatan, sejumlah sponsor baru telah digalang. Pada tahun 2007, sejarah terukir dengan berkiprahnya Ancora Sports sebagai promotor Pertamina Indonesia President's Invitational berhadiah US$400 ribu, yang berlanjut selama 3 tahun berturut-turut. Turnamen ini merupakan bagian dari Asian Tour.

Pada tahun 2007, tercatat juga International Sports Tour menggelar turnamen pertama dari Asean PGA Tour di Imperial Klub Golf. Yang kemudian berlanjut pada tahun berikutnya di Emeralda Golf Club, sebagai awal dari Mercedes-Benz Asean PGA Tour.

Pada tahun 2007, Camry Invitational mencatat seri pertandingan tahunan yang pertama digelar di Jagorawi, kemudian dilanjutkan di Cengkareng pada tahun berikutnya.

Ria Prawiro, dengan group Karizanya menggulirkan sejumlah turnamen lokal dan internasional. RP Invitational digelar di Lido pada tahun 2009 dengan hadiah uang yang cukup menggiurkan, sebesar Rp 350 juta. Pada awal tahun tersebut, Emeralda bekerja sama dengan Mercedes-Benz pun memulai seri Emeralda Championships tahunan, sebagai apresiasi kepada para pegolf lokal. Tercatat pula Raharja SK Golf Tournament mulai digelar, dengan mengambil tempat di Bandung Giri Gahana Golf Resort.

Pada tahun 2009, digelar pula 4 seri Ancora Sports Pro Series dengan hadiah uang masing-masing sebesar Rp 150 juta, diawali di Gading Raya, kemudian di Matoa Nasional Golf, diikuti di Imerial Klub Golf dan berakhir di Gading Raya. Pada akhir 2009, digelar pula Musi Golf Championship di Kenten, Palembang.

Dalam tahun 2009, Maan Nasim terpilih sebagai Player of the Year setelah mengumpulkan hadiah uang terbesar, mendekati Rp200 juta. Sementara Rookie of the Year 2009 diraih oleh Andik Mauludin dan Most Improved Player, Johannes Dermawan.

Pada sisi lain, sejak tahun 2006, Program Sertifikasi Teaching Pro (STP) mulai digelar, guna memberikan keabsahan bagi para pengajar. Sim Sang Hoon dari Korea, yang memiliki Sim's Golf Academy sejak tahun 2005, ditunjuk sebagai pengajar dasar-dasar teknik golf. Program yang merupakan kegiatan tahunan ini, telah menjadi salah satu upaya besar dalam rangka meningkatkan kemampuan mengajar para teaching Pro Indonesia.

Anggota PGPI menjadi Ketua

Sejak 1984 dan untuk selama seperempat abad, akhirnya anggota PGPI, M. Syafei Asnap dipilih sebagai Ketua Umum, melalui Rapat Umum Anggota yang digelar pada bulan Januari 2010. Dan Agus Triyono tetap menjabat sebagai Sekjen.

Sejumlah perbaikan tetap dilanjutkan, baik secara organisasi dan turnamen. PGPI sebagai sanction body atas berbagai turnamen lokal dan internasional lebih ditingkatkan.

Sebagai kelanjutan dari kesepakatan tahun sebelumnya, pada tahun 2010, Kariza kembali menggelar RP Invitational di Riverside, dilanjutkan dengan Kariza Indonesia Championship di Gading Serpong sebagai bagian dari Asean PGA Tour dan dengan digelarnya turnamen pamungkas, Kariza Classic di Imperial, bagian dari Asian Development Tour. Sebagai catatan tambahan, Ria Prawiro sempat mengusung sejumlah Pro, seperti Sarmilih, Burhan Bora dan Harjito, untuk dapat berlaga dalam sejumlah kejuaraan, baik di Indonesia mau pun di negara-negara Asean lainnya.

Pada awal tahun 2010 tercatat Pelindo 2 Golf Tournament digelar di Helvetia dengan pemenangnya seorang amatir, yang lebih dikenal dengan nama Ateng.

Dalam tahun 2010 tergelar pula sejumlah turnamen, antara lain, Ancora Sports Pro-Series sebanyak 6 turnamen. Dan yang amat menggembirakan dengan digelarnya Raharja SK - T&E System di Bandung Giri Gahana, berkat dukungan dari Harry Bagus selaku pemilik Raharja SK, yaitu perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan teknologi informasi.

Selanjutnya Emeralda-MB Championship digelar untuk kedua kalinya. Sementara Pondok Indah Golf menjadi tuan rumah bagi Camry Invitational 2010, setelah melampaui face-lift.

Dalam pada itu, setelah pertandingan pertama Asian Development Tour di Imperial, International kembali mengusung ADT di Pecatu Bali.

Pada tahun 2010, Andik Mauludin menggaet gelar Player of The Year setelah kemenangannya di RP Invitational 2010 dan Ancora Pro-Series VI (Halim 1) yang melejitkan perolehan hadiah uang. Gelar Rookie of the Year disabet oleh Benny Kasiadi yang berhasil mengantungi gelar juara di Modern Golf saat Ancora Pro-Series III. Dan Henry Nasim membawa pulang gelar Most Improved Player atas kemenangannya yang spektakuler saat mengumpulkan skor 22-under dalam kejuaraan Ancora V, di home coursenya, Sawangan.

Menginjak tahun 2011, dengan digelarnya Pelindo 2 Golf Tournament, di Helvetia, Medan, Rory Hie mulai menampakkan warnanya. Setelah memenangi Raharja SK Tournament tahun sebelumnya, ia semakin tak tertahankan, kendati harus memainkan sudden-death play-off melawan Burhan Bora sebanyak 3 hole, yang akhirnya merengkuh piala juara.

Langkah Rory kian mantap setelah hampir saja merebut gelar juara dalam kejuaraan Indonesia PGA Championship di Imperial Klub Golf, berhadiah US$ 1 juta. Terpaut satu stroke dari sang juara, Andre Stolz yang kemudian melonjak sebagai pemegang Order of Merit OneAsia Tour untuk tahun 2011. Dalam turnamen tersebut, Rory berhak membawa pulang US$ 102ribu.

Kejadian yang sama hampir berulang pada Indonesia Open, hampir saja ia memecahkan rekor dengan menjadi orang Indonesia kedua yang akan menjadi juara. Sayangnya, pukulan tee-shotnya masuk kedalam rintangan air di sebelah kiri. Dengan posisi kedua, ia berbagi bersama 2 pemain lainnya. Namun, dengan begitu, ia menembus posisi dibawah 500 dari World Ranking dengan point sebesar .31 dan posisi 491.

Dalam kejuaraan Indonesian Masters yang digelar di Royale Halim pada bulan April, Rory sempat memperbaiki posisi ke 503 dalam World Ranking. Sementara sang juara, Lee Westwood, berhasil mengulangi sukses kembali meraih posisi nomor satu dunia, setelah selama 8 minggu direbut oleh Martin Kaymer.

PGPI sebagai co-sanctioning body dalam kejuaraan Asian Tour ini, cukup memperoleh perhatian dari Asian Tour berkat keterlibatan dalam turnamen sebagai rules officials. Pengalaman PGPI Tour dengan OneAsia Tour sebelumnya di Imperial dalam Indonesia PGA C'ship, bahkan terlibat dalam pelaksanaan live scoring, yang mendapat acungan jempol dari sejumlah official asing.

Tahun 2011 di awali dengan diselenggarakannya Ancora Pro Series I di Karawang International dan pada bulan April 2011 Emeralda Championship kembali digelar.

Pada bulan berikutnya, Raharja SK - T&E System Golf Tournament kembali digelar di Bandung Giri Gahana. Dan sekali lagi, Rory Hie meneruskan gelar juara bertahan yang disandangnya.Sementara pada saat bersamaan Raharja SK Lavande Residence Senior Mini Tour 2011 digelar pula, dan tanpa diragukan, Maan Nasim menyabet gelar Juara.

Pada tahun 2011, terdapat 2 turnamen Asean Tour, yaitu Musi Championship di Palembang sebagai bagian dari kemeriahan Sea Games dan Ancora Classic di Emeralda. Dalam turnamen pertama, Wisut Artjanawat memenanginya dan sekaligus memantapkan posisinya sebagai pemenang Order of Merit Asean PGA Tour yang membawanya bermain dalam OneAsia Tour 2012. Sementara Ancora Classic dimenangi oleh Ferdie Auzon dari Philipna.

Dapat dipastikan sejauh ini, Rory Hie akan meraih gelar Player of The Year 2011. Sementara pemenang Rookie of the Year dan Most Improved Player akan diumumkan pada tanggal 26 Januari 2012, sekaligus berbagai pengumuman penting lainnya.